Apakah Betadine Dapat Digunakan Untuk Test Kualitas Deterjen?

Hello Forti-ers, jumpa lagi di artikel saya.  Kali ini saya sedikit agak usil mengorek apakah Betadine (obat luka yang ada di pasaran) itu dapat digunakan untuk tes kinerja (kualitas) deterjen?  Saya tertarik menulis artikel ini karena sangat penasaran dengan satu hal yang pernah saya dengar dari beberapa orang teman sesama praktisi kimia laundry:

“Kalau mau ngetes deterjen itu bagus atau nggak, coba aja dites pake Betadine.  Bisa pake 2 cara, pertama masukkan Betadine beberapa tetes ke dalam air 1 gelas, lalu masukkan deterjen sedikit demi sedikit hingga warna Betadine hilang.  Atau sebaliknya, masukkan dulu deterjen ke dalam 1 gelas air, lalu teteskan Betadine hingga warnanya berubah menjadi kuning kecoklatan.  Jumlah Betadine dan jumlah deterjen harus terukur dengan tepat (kuantitatif), sehingga dapat dibandingkan antara kinerja deterjen satu dengan lainnya.  Misalnya kita menggunakan cara pertama, maka jumlah Betadine mula-mula yang dimasukkan ke dalam air harus sama, contohnya 10 tetes (0,5 ml).  Jumlah deterjen yang dimasukkan sedikit demi sedikit juga harus terukur dengan tepat, misal ditimbang atau cukup menggunakan takaran seperti menggunakan ujung sendok kecil.  Jangan lupa untuk selalu diaduk.  Makin banyak jumlah deterjen yang dimasukkan agar warna larutan Betadine menjadi bening, maka makin jeleklah deterjen kita.  Misal deterjen A membutuhkan 3 ujung sendok agar warna larutan Betadine hilang, sedangkan deterjen B membutuhkan 5 ujung sendok.  Dapat disimpulkan bahwa deterjen A lebih bagus daripada deterjen B.  Bila kita menggunakan cara kedua, sama juga.  Deterjen mula-mula yang dimasukkan ke dalam air harus sama dan terukur, misalnya 1 sendok makan, aduk rata, lalu masukkan Betadine tetes demi tetes sambil diaduk hingga warna larutan berubah menjadi kuning kecoklatan.  Makin banyak jumlah Betadine yang diteteskan, maka makin baguslah deterjen kita.”

Apa benar?

Saya sempat mencoba cara tersebut dan sekilas memang sepertinya cara tersebut oke punya.  Tapi saya sempat ragu juga.  Lalu saya bahas dengan beberapa orang teman dengan background yang sama dengan saya, yaitu kimia.  Mereka juga belum bisa menangkap sisi ilmiah dari cara tersebut.  Apakah noda-noda sehari-hari pada pakaian bisa diidentikkan dengan Betadine?  Misalnya noda lemak, tinta, karat, jamur, tanah, dan lain-lain.

Oke, sekarang kita lihat apakah Betadine itu? Betadine merupakan senyawa kompleks polyvinylpyrrolidone-iodine atau povidone-iodine (PVP-I) yang mengandung iodine sekitar 7,5-10%.  Iodine ini akan terlepas secara perlahan-lahan dari kompleksnya lalu berfungsi untuk membunuh sel eukariot dan prokariot melalui iodinasi lipid dan oksidasi sitoplasma dan komponen membran pada bakteri, jamur, dan virus, sehingga mencegah infeksi pada luka.

Lalu bagaimana bila Betadine ditambahkan pada deterjen? Reaksi apa yang terjadi? Iodine pada Betadine merupakan oksidator.  Sedangkan deterjen pada umumnya mengandung surfaktan ionik (anionik, kationik, maupun zwitterionik) sebagai zat aktifnya.  Walaupun ada beberapa deterjen yang surfaktannya nonionik (tidak bermuatan).  Namun sebagian besar deterjen mengandung surfaktan anionik (bermuatan negatif).  Maka bila Betadine ditambahkan pada deterjen, akan terjadi reaksi reduksi-oksidasi (redoks).  Iodine pada Betadine sebagai oksidator akan mengoksidasi surfaktan anionik, sedangkan iodine sendiri akan terreduksi.  Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

Oksidasi: 2ROSO3 ↔ 2RSO3 + O2 + 2e

Reduksi: I2 + 2e ↔ 2I

Redoks: I2 + 2ROSO3Na ↔ 2RSO3 + 2NaI + O2

ROSO3Na mewakili surfaktan anionik pada deterjen dengan R adalah CH3(CH2)10CH2(OCH2CH2)3.

Silakan dikoreksi jika ada yang salah dengan reaksi di atas ya.

Surfaktan anionik pada deterjen di atas misalnya SLES, SLS, LAS, ABS, dll.

Pertanyaan 1, bagaimana bila surfaktan di dalam deterjen adalah bukan surfaktan anionik, melainkan surfaktan kationik, zwitterionik, atau bahkan nonionik? Apakah iodine pada Betadine dapat mengoksidasi surfaktan-surfaktan selain anionik tersebut? Bagaimana reaksinya?

Misalkan bila iodine tidak dapat mengoksidasi surfaktan nonionik, padahal sebenarnya deterjen yang mengandung surfaktan nonionik tersebut bagus, maka deterjen tersebut akan tampak jelek karena tidak mengubah warna iodine.  Padahal deterjen impor banyak sekali yang mengandung surfaktan jenis nonionik ini.

Pertanyaan 2, apakah iodine pada Betadine dapat diidentikkan dengan noda? Apakah reaksi surfaktan terhadap noda adalah reaksi redoks? Mari kita lihat.

Surfaktan (zat aktif permukaan) pada deterjen mempunyai dua ujung yang berbeda yaitu ujung hidrofil (suka air) dan ujung hidrofob (benci air / suka lemak).  Zat aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan.  Berikut ini adalah gambaran cara kerja surfaktan pada deterjen saat mengangkat noda.

Cara kerja surfaktan deterjen terhadap noda

Cara kerja surfaktan deterjen terhadap noda

Taken from Utah University.

Mula-mula, surfaktan berbentuk misel dengan ujung hidrofil berikatan hidrogen dengan air, sedangkan ujung hidrofobnya tertolak oleh air, sehingga terlindung di bagian dalam misel.  Saat berdekatan dengan noda, ujung hidrofob ini akan menarik noda dari kain, kemudian bersama-sama membentuk misel baru.  Suhu tinggi, pengadukan dan pengucekan pakaian akan mempercepat proses ini karena akan mempermudah terlepasnya noda dari kain.  Semua proses ini tidak melibatkan pertukaran elektron seperti pada reaksi redoks antara iodine pada betadine dengan surfaktan anionik.  Yang terjadi hanyalah interaksi / gaya yang timbul akibat adanya sifat hidrofil-hidrofob tersebut.

Tuh kan?

Terjawab sudah bahwa iodine pada Betadine tidak bisa diidentikkan dengan noda karena interaksi yang terjadi dengan surfaktan jelas berbeda.

Sebenarnya bisa juga diasumsikan bahwa jumlah iodine setara dengan jumlah surfaktan pada deterjen (cara 2).  Namun apakah jumlah surfaktan dalam deterjen dapat diasumsikan bahwa deterjen itu bagus?

“This whole chemical interplay of detergent, dirt and water needs just the right mix of water and quantity and nature of surfactant molecule to take place appreciably. If there are too few surfactant molecules, and too little energy in the water, the surfactants will not be able to surround and carry away oil and dirt globules as described. However, too many surfactant molecules will cause a problem as well because they will stick to every fiber present and copious rinsing will be required to really rid the laundry of the thus resultant surfactant layer.” (brighthub. com)

Tuh, ternyata kebanyakan surfaktan malah jelek juga ya?

Selain itu, di dalam deterjen, yang bekerja membersihkan noda bukan hanya surfaktan, tapi juga ada enzim, bleach agent, bintik biru, dll.

“Modern detergents contain more than surfactants. Cleaning products may also contain enzymes to degrade protein-based stains, bleaches to de-color stains and add power to cleaning agents, and blue dyes to counter yellowing.” (chemistry. about. com)

Jika kita mengetes kinerja deterjen menggunakan Betadine seperti ini: Misal deterjen A mengandung surfaktan 30%, tetapi tidak mengandung enzim, bleach agent, bintik biru, dll.  Sedangkan deterjen B hanya mengandung surfaktan 28%, tetapi mengandung bleach agent 25%.  Apakah deterjen A lebih baik daripada deterjen B? Kalau menurut tes Betadine, akan tampak bahwa deterjen A lebih baik daripada deterjen B.  Padahal kan tidak demikian.

Oiya, saya sempat googling berkali-kali dan tidak ada satupun artikel dari luar negeri yang menyebutkan bahwa iodine dapat digunakan untuk tes kinerja deterjen.  Cuma ada di artikel-artikel berbahasa Indonesia dan saya tidak habis pikir dari mana mereka mendapatkan metode ini.  Saya coba cari-cari di SNI (Standar Nasional Indonesia), ASTM (American Society for Testing and Materials), AOAC (Association of Analytical Communities), dan macem-macem metode standar lainnya, tidak ada yang menyebutkan metode Betadine ini.  Saya sangat penasaran.  Bila ada yang memiliki dasar ilmiah atau artikel-artikel valid yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai metode iodine untuk tes kinerja deterjen, silakan berbagi.  Bila ada kesalahan pada artikel saya, mohon maaf ya, dan mohon koreksinya.  Mari kita belajar sama-sama, untuk Indonesia yang lebih baik🙂.

3 thoughts on “Apakah Betadine Dapat Digunakan Untuk Test Kualitas Deterjen?

  1. Saya pernah dengar tes menggunakan betadin itu, saya juga sempet ragu, akhirnya sekarang terjawab sudah. Nice articel, btw tnx ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s